Mencari Yang Tiada
so as not to forget the memories of the paths that i have walked
Saturday, December 31, 2011
Friday, December 30, 2011
Bread and Music
Music I heard with you was more than music,
And bread I broke with you was more than bread;
Now that I am without you, all is desolate;
All that was once so beautiful is dead.
Your hands once touched this table and this silver,
And I have seen your fingers hold this glass.
These things do not remember you, belovèd,
And yet your touch upon them will not pass.
For it was in my heart you moved among them,
And blessed them with your hands and with your eyes;
And in my heart they will remember always,
They knew you once, O beautiful and wise.
And bread I broke with you was more than bread;
Now that I am without you, all is desolate;
All that was once so beautiful is dead.
Your hands once touched this table and this silver,
And I have seen your fingers hold this glass.
These things do not remember you, belovèd,
And yet your touch upon them will not pass.
For it was in my heart you moved among them,
And blessed them with your hands and with your eyes;
And in my heart they will remember always,
They knew you once, O beautiful and wise.
Conrad Aiken
Thursday, December 29, 2011
Distant light
Harsh and cold
autumn holds to it our naked trees:
If only you would free, at least, the sparrows
from the tips of your fingers
and release a smile, a small smile
from the imprisoned cry I see.
Sing! Can we sing
as if we were light, hand in hand
sheltered in shade, under a strong sun?
Will you remain, this way
stoking the fire, more beautiful than necessary, and quiet?
Darkness intensifies
and the distant light is our only consolation
that one, which from the beginning
has, little by little, been flickering
and is now about to go out.
Come to me. Closer and closer.
I don't want to know my hand from yours.
And let's beware of sleep, lest the snow smother us.
autumn holds to it our naked trees:
If only you would free, at least, the sparrows
from the tips of your fingers
and release a smile, a small smile
from the imprisoned cry I see.
Sing! Can we sing
as if we were light, hand in hand
sheltered in shade, under a strong sun?
Will you remain, this way
stoking the fire, more beautiful than necessary, and quiet?
Darkness intensifies
and the distant light is our only consolation
that one, which from the beginning
has, little by little, been flickering
and is now about to go out.
Come to me. Closer and closer.
I don't want to know my hand from yours.
And let's beware of sleep, lest the snow smother us.
Walid Khazindar
Wednesday, December 28, 2011
Mengapa di rindu
Anak punai anak merbah
Terbang turun buat sarang
Anak sungai pun berubah
Ini pula hati orang
Mengapa dikenang
Asal kapas jadi benang
Dari benang dibuat baju
Barang lepas jangan kenang
Sudah jadi orang baru
Mengapa dirindu
Kasih yang dulu tinggal dalam mimpi
Kasih yang baru simpan di hati
Kasih yang dulu tinggal dalam mimpi
Kasih yang baru simpan di hati
Terbang turun buat sarang
Anak sungai pun berubah
Ini pula hati orang
Mengapa dikenang
Asal kapas jadi benang
Dari benang dibuat baju
Barang lepas jangan kenang
Sudah jadi orang baru
Mengapa dirindu
Kasih yang dulu tinggal dalam mimpi
Kasih yang baru simpan di hati
Kasih yang dulu tinggal dalam mimpi
Kasih yang baru simpan di hati
Tuesday, December 27, 2011
Mengapa di rindu
Selat teduh lautan tenang
Banyak labuh perahu Aceh
Jangan kesal jangan kenang
Walau hati rasa pedih
Mengapa bersedih
Kalau pinang masih muda
Rasanya kelat sudahlah pasti
Kalau hilang kasih lama
Cari lain untuk ganti
Mengapa dinanti
Patah 'kan tumbuh hilang berganti
Akan sembuh kalau diubati
Patah 'kan tumbuh hilang berganti
Akan sembuh kalau diubati
Sayang mengapa dirindu
Banyak labuh perahu Aceh
Jangan kesal jangan kenang
Walau hati rasa pedih
Mengapa bersedih
Kalau pinang masih muda
Rasanya kelat sudahlah pasti
Kalau hilang kasih lama
Cari lain untuk ganti
Mengapa dinanti
Patah 'kan tumbuh hilang berganti
Akan sembuh kalau diubati
Patah 'kan tumbuh hilang berganti
Akan sembuh kalau diubati
Sayang mengapa dirindu
Monday, December 26, 2011
Cindai
Cindailah mana tidak berkias
Jalinnya lalu rentah beribu
Bagailah mana hendak berhias
Cerminku retak seribu
Mendendam unggas liar di hutan
Jalan yang tinggal jalan berliku
Tilam ku emas cadarnya intan
Berbantal lengan tidurku
Hias cempaka kenangan tepian
Mekarnya kuntum nak idam kumbang
Puas ku jaga sibunga impian
Gugurnya sebelum berkembang
Hendaklah hendak hendak ku rasa
Puncaknya gunung hendak ditawan
Tidaklah tidak tidak ku daya
Tingginya tidak terlawan
Jalinnya lalu rentah beribu
Bagailah mana hendak berhias
Cerminku retak seribu
Mendendam unggas liar di hutan
Jalan yang tinggal jalan berliku
Tilam ku emas cadarnya intan
Berbantal lengan tidurku
Hias cempaka kenangan tepian
Mekarnya kuntum nak idam kumbang
Puas ku jaga sibunga impian
Gugurnya sebelum berkembang
Hendaklah hendak hendak ku rasa
Puncaknya gunung hendak ditawan
Tidaklah tidak tidak ku daya
Tingginya tidak terlawan
Sunday, December 25, 2011
Cindai
Janganlah jangan jangan ku hiba
Derita hati jangan dikenang
Bukanlah bukan bukan ku pinta
Merajuk bukan berpanjangan
Akar beringin tidak berbatas
Cuma bersilang paut di tepi
Bidukku lilin layarnya kertas
Seberang laut berapi
Gurindam lagu bergema takbir
Tiong bernyanyi pohonan jati
Bertanam tebu di pinggir bibir
Rebung berduri di hati
Laman memutih pawana menerpa
Langit membiru awan bertali
Bukan di rintih pada siapa
Menunggu sinarkan kembali
Derita hati jangan dikenang
Bukanlah bukan bukan ku pinta
Merajuk bukan berpanjangan
Akar beringin tidak berbatas
Cuma bersilang paut di tepi
Bidukku lilin layarnya kertas
Seberang laut berapi
Gurindam lagu bergema takbir
Tiong bernyanyi pohonan jati
Bertanam tebu di pinggir bibir
Rebung berduri di hati
Laman memutih pawana menerpa
Langit membiru awan bertali
Bukan di rintih pada siapa
Menunggu sinarkan kembali
Subscribe to:
Posts (Atom)